Anak Anugrah atau Bencana
By : Amrulloh Rofa’i,
S.Pd.I
Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh,
Puji Syukur atas segala karunia Allah yang begitu luas dan tak
terhitung jumlahnya. Shalawat dan Salam semoga senantiasa tercurah atas Nabi
akhir zaman Muhammad Saw yang tiada Nabi setelahnya, semoga rahmat dan kasih sayang-Nya
pun tercurah kepada keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir masa.
Teriring salam dan do'a semoga rahmat dan ridho Allah senantiasa
tercurah atas kita semua. Amin.
Pembaca yang budiman,,
Anak adalah karunia Allah yang begitu berharga bagi setiap insan,
namun lebih daripada itu, ia juga merupakan amanah-Nya yang harus kita jaga dan
pelihara hingga pada saatnya pula akan dipintai pertanggungan jawabnya.
Dengannya kita mampu tersenyum bahagia, namun dengannya pula kita mampu
menangis dan menderita. Bukan hanya di dunia bahkan hingga di akhirat sana.
Kebahagian dan penderitaan semua tergantung kepada kita selaku orang tua yang
diamanahkan oleh Yang Maha Kuasa untuk mendidik dan membahagiakannya menuju
keridhoan-Nya.
Bagi mereka yang mampu menjaga dan memeliharanya dengan segenap cinta
dan kasih sayangnya akan tersenyum bahagia walau tak lagi bersamanya. Namun
sebaliknya, bagi mereka yang menyia-nyiakan amanah-Nya pun akan menangis berduka.
Allah Swt telah mengingatkan kita dalam Firman-Nya dalam Surat
At-Taghabun ayat 14 – 16 yang berbunyi :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ
وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا
وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ
عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا
وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ
الْمُفْلِحُونَ
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara
isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka
berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak
memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha
Penyayang.” (14)
“Sesungguhnya
hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang
besar.” (15)
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (16)
Berapa banyak manusia yang diamanahkan Sang Penciptanya mengabaikan
amanah-Nya bahkan enggan mengakuinya. Dengan berbagai alasan, merekapun dengan
teganya membuang makhluk yang suci itu di tempat pembuangan sampah, didepan
rumah-rumah warga, di toilet Rumah Makan, diselokan bahkan tak sedikit makhluk
yang mungil yang tak berdosa dan tak berdaya itu secara perlahan dibunuh bahkan
dengan cara yang kejam diluar batas kemanusiaannya bahkan yang lebih menyedihkan
lagi mereka dengan paksa menghabisi nyawanya sejak ia masih berbentuk janin
dirahim ibunya, mengubur semua impian dan harapannya untuk dapat melihat
kebesaran Tuhannya berupa dunia dengan berbagai keindahan didalamnya seakan tak
relakan kehadirannya. Apakah dengan cara seperti ini kita diperintahkan? Tak terbesitkah
di hati mereka untuk melihat buah hatinya tersenyum, menangis, tak inginkah
mereka menimang, memeluk dan mendengarnya memanggil nama ibu dan ayahnya ?
Pembaca yang
budiman,,
Sudah sepantasnya
kita selaku pengemban amanah-Nya untuk selalu bersyukur atas karunia yang
diberikan-Nya, karena kitalah yang dipilih-Nya untuk mengemban amanah yang begitu
besar ini. Karena tidak semua makhluk-Nya diberikan kesempatan yang sama
seperti kita. Masih banyak diantara kita yang begitu merindukan kehadiran sang buah
hatinya namun Allah pun belum memilihnya.
Kiranya ini menjadi
renungan bagi kita bersama untuk senantiasa menunaikan amanah-NYa dengan
segenap cinta dan kasih sayang, mendidiknya dengan pengetahuan agama agar kelak
buah hati kita mampu mengenal Tuhannya, dan membekali mereka dengan pengetahuan
umum agar kelak betambah kokoh pula keimanannya sebagai manifestasi kesyukuran
kita atas anugrah yang tak terhingga ini.
Betapa bahagianya
kita selaku orang tua tatkala kita terbaring kaku lemas tak berdaya saat Malaikat
Maut menjemput kita, namun di waktu yang bersamaan pula di saat-saat yang begitu mencekam, kita pun mendapati buah
hati kita dengan segenap keikhlasan dan baktinya menuntun kita menyebut Asma-Nya
dengan penuh pengharapan kiranya Allah menjemput manusia yang telah membesarkan
dan mendidiknya selama ini dalam keadaan Husnul Khatimah, kemudian dengan
segala kelembutan mereka memandikan dan mengkafani jasad kita, kemudian
diantara mereka ada yang ikhlas menjadi Imam saat jasad kita dishalatkan,
bahkan merekapun ikut ambil bagian dalam mengantarkan kita ke tempat
peristirahatan yang terakhir. Bahkan tak cukup sampai disitu, nama kita pun senantiasa
ikut menghiasi di setiap do’a yang mereka panjatkan.
Namun betapa
sedihnya kita tatkala saat-saat terakhir kita tak ada satupun di antara buah
hati kita yang mampu menuntun kita menyebut Asma-Nya, memandikan dan
mengkafani serta menyolatkan hingga mengantarkan jasad kita di
peristirahatan kita yang abadi. Nama kita pun hilang bersama hilangya jasad kita
dari hadapan mereka. Jangankan untuk mendo’akan kita, menunaikan perintah-Nya
pun tidak. Na’udzubillahimin dzalik.
Jelaslah bagi kita
semua bahwa harta dan warisan yang berharga itu bukanlah gundukan emas permata
yang menjulang tinggi namun harta dan warisan itu adalah anak yang sholeh dan sholehah yang
senantiasa berbakti kepada kedua orang tuanya baik saat bersama maupun saat
tiada.
Semoga Allah Swt
senantiasa memberikan kekuatan dan kesabaran dalam mendidik dan mengarahkan
buah hati kita menuju keridhoan Allah Rabbul Jalal. Amin Ya
Robbal ‘Alamin.
Wassalamu’alaikum
Warohmaatullohi Wabarokatuh.








semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam mengemban amanah-Nya, Amin.
BalasHapusamin..
BalasHapus