Sabtu, 07 Februari 2015

Anak Anugrah atau Bencana

Anak Anugrah atau Bencana
By : Amrulloh Rofa’i, S.Pd.I


Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh,

Puji Syukur atas segala karunia Allah yang begitu luas dan tak terhitung jumlahnya. Shalawat dan Salam semoga senantiasa tercurah atas Nabi akhir zaman Muhammad Saw yang tiada Nabi setelahnya, semoga rahmat dan kasih sayang-Nya pun tercurah kepada keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir masa.
Teriring salam dan do'a semoga rahmat dan ridho Allah senantiasa tercurah atas kita semua. Amin.
Pembaca  yang budiman,,
Anak adalah karunia Allah yang begitu berharga bagi setiap insan, namun lebih daripada itu, ia juga merupakan amanah-Nya yang harus kita jaga dan pelihara hingga pada saatnya pula akan dipintai pertanggungan jawabnya. Dengannya kita mampu tersenyum bahagia, namun dengannya pula kita mampu menangis dan menderita. Bukan hanya di dunia bahkan hingga di akhirat sana. Kebahagian dan penderitaan semua tergantung kepada kita selaku orang tua yang diamanahkan oleh Yang Maha Kuasa untuk mendidik dan membahagiakannya menuju keridhoan-Nya.
Bagi mereka yang mampu menjaga dan memeliharanya dengan segenap cinta dan kasih sayangnya akan tersenyum bahagia walau tak lagi bersamanya. Namun sebaliknya, bagi mereka yang menyia-nyiakan amanah-Nya pun akan menangis berduka.
Allah Swt telah mengingatkan kita dalam Firman-Nya dalam Surat At-Taghabun ayat 14 – 16 yang berbunyi :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” (14)

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (15)

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (16)
Berapa banyak manusia yang diamanahkan Sang Penciptanya mengabaikan amanah-Nya bahkan enggan mengakuinya. Dengan berbagai alasan, merekapun dengan teganya membuang makhluk yang suci itu di tempat pembuangan sampah, didepan rumah-rumah warga, di toilet Rumah Makan, diselokan bahkan tak sedikit makhluk yang mungil yang tak berdosa dan tak berdaya itu secara perlahan dibunuh bahkan dengan cara yang kejam diluar batas kemanusiaannya bahkan yang lebih menyedihkan lagi mereka dengan paksa menghabisi nyawanya sejak ia masih berbentuk janin dirahim ibunya, mengubur semua impian dan harapannya untuk dapat melihat kebesaran Tuhannya berupa dunia dengan berbagai keindahan didalamnya seakan tak relakan kehadirannya. Apakah dengan cara seperti ini kita diperintahkan? Tak terbesitkah di hati mereka untuk melihat buah hatinya tersenyum, menangis, tak inginkah mereka menimang, memeluk dan mendengarnya memanggil nama ibu dan ayahnya ?   
Pembaca yang budiman,,
Sudah sepantasnya kita selaku pengemban amanah-Nya untuk selalu bersyukur atas karunia yang diberikan-Nya, karena kitalah yang dipilih-Nya untuk mengemban amanah yang begitu besar ini. Karena tidak semua makhluk-Nya diberikan kesempatan yang sama seperti kita. Masih banyak diantara kita  yang begitu merindukan kehadiran sang buah hatinya namun Allah pun  belum memilihnya.
Kiranya ini menjadi renungan bagi kita bersama untuk senantiasa menunaikan amanah-NYa dengan segenap cinta dan kasih sayang, mendidiknya dengan pengetahuan agama agar kelak buah hati kita mampu mengenal Tuhannya, dan membekali mereka dengan pengetahuan umum agar kelak betambah kokoh pula keimanannya sebagai manifestasi kesyukuran kita atas anugrah yang tak terhingga ini.
Betapa bahagianya kita selaku orang tua tatkala kita terbaring kaku lemas tak berdaya saat Malaikat Maut menjemput kita, namun di waktu yang bersamaan pula di saat-saat  yang begitu mencekam, kita pun mendapati buah hati kita dengan segenap keikhlasan dan baktinya menuntun kita menyebut Asma-Nya dengan penuh pengharapan kiranya Allah menjemput manusia yang telah membesarkan dan mendidiknya selama ini dalam keadaan Husnul Khatimah, kemudian dengan segala kelembutan mereka memandikan dan mengkafani jasad kita, kemudian diantara mereka ada yang ikhlas menjadi Imam saat jasad kita dishalatkan, bahkan merekapun ikut ambil bagian dalam mengantarkan kita ke tempat peristirahatan yang terakhir. Bahkan tak cukup sampai disitu, nama kita pun senantiasa ikut menghiasi di setiap do’a yang mereka panjatkan.
Namun betapa sedihnya kita tatkala saat-saat terakhir kita tak ada satupun di antara buah hati kita yang mampu menuntun kita menyebut Asma-Nya, memandikan dan mengkafani serta menyolatkan hingga mengantarkan jasad kita di peristirahatan kita yang abadi. Nama kita pun hilang bersama hilangya jasad kita dari hadapan mereka. Jangankan untuk mendo’akan kita, menunaikan perintah-Nya pun tidak. Na’udzubillahimin dzalik.
Jelaslah bagi kita semua bahwa harta dan warisan yang berharga itu bukanlah gundukan emas permata yang menjulang tinggi namun harta dan warisan itu  adalah anak yang sholeh dan sholehah yang senantiasa berbakti kepada kedua orang tuanya baik saat bersama maupun saat tiada.  
Semoga Allah Swt senantiasa memberikan kekuatan dan kesabaran dalam mendidik dan mengarahkan buah hati kita menuju keridhoan Allah Rabbul Jalal. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Wassalamu’alaikum Warohmaatullohi Wabarokatuh.

                

2 komentar: